Muslimah – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, pada kesempatan yang lalu kita telah membahas mengenai adab muslimah dengan lisannya, dan InsyaaAlloh kali ini kita akan melanjutkan kembali mengenai adab-adab ini.

Adab selanjutnya bagi seorang muslimah yaitu tidak bergembira dengan duka orang lain.

Hal ini di dalam bahasa arab disebut dengan al-syamatah yaitu gembira dengan duka orang. Mengenai hal ini diriwayatkan dari Watsilah bin Al-Asqo’ bahwa Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Janganlah engkau menampakkan kegembiaraan atas duka saudaramu maka Alloh Ta’alaa akan menyayanginya dan menimpakan ujian kepadamu”. (HR. At-Tirmidzi)

Kemudian adab muslimah selanjutnya yaitu meminta dan menerima maaf, sebagai seorang muslimah hendaknya kita selalu menghiasi lisan kita dengan perkataan yang baik, senantiasa bersyukur dan tidak segan menerima maaf, karena pemberian maaf menghilangkan kesumpekan dan membersihkan hati, bila kita melakukan kesalahan. Maka segeralah minta maaf, agar kita segera mendapat ampunan dari Alloh Ta’alaa.

Mengenai hal ini Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Tahukah kalian, siapakah orang yang pailit atau bangkrut itu? Para sahabat Rodhiyallohu ‘anhum menjawab, “Orang pailit adalah orang yang tidak memiliki uang ataupun benda di antara kita, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda, ‘Sesungguhnya orang yang pailit dari umatku adalah orang yang dating pada hari kiamat dengan membawa pahala sholat, puasa, dan zakat, namun ia telah mencaci si “a”, menuduh si “b”, memakan harta si “c”, menumpahkan darah si “d” dan memukul si “e”, maka orang ini diberi kebaikan-kebaikannya. Dan jika kebaikannya telah habis, maka diambillah keburukan-keburukan mereka lalu dibebankan kepadanya. Lalu ia dilemparkan kedalam api neraka”. (HR. Muslim)

Sebagai seorang muslimah hendaknya kita maafkan orang-orang yang meminta maaf kepada kita. Karena ini termasuk kebaikan akhlak dan kemuliaan jiwa,

Hal ini juga sebagaimana firman Alloh Ta’alaa,

Artinya, “yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit. Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan kesalahan orang, Alloh menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali-Imron : 134)

Adab selanjutnya bagi wanita muslimah yaitu malu dalam berbicara,

Hendaknya sebagai seorang muslimah, kita malu kepada Alloh Ta’alaa. Malu kepada Alloh Ta’alaa akan melahirkan malu kepada diri sendiri dan orang lain, malu juga merupakan akhlak yang membuat pemiliknya meninggalkan yang jelek dan mengikuti yang baik, hal ini sebagaimana sebuah hadits dari ‘Abdulloh bin Utbah Rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata ; “Saya mendengar Abu Sa’id al-khudri berkata.” Rosululloh lebih pemalu dari gadis dalam pingitannya”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Dalam hadits yg lain Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ

Artinya, “Malu tidak mendatangkan kecuali kebaikan”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Sifat malu akan mendidik jiwa seseorang. Menjauhkan diri pelakunya dari kejelakan, kurang malu bisa menyebabkan berbagai musibah dan mendatangkan murka Alloh Ta’alaa dan kebencian manusia. Namun, hal ini jika seseorang belajar agama, maka tidak perlu malu, mengenai hal ini sahahabiyah Ummu Salamah Rodhiyallohu ‘anha ia berkata, “Ya Rosululloh, sesungguhnya Alloh tidak malu dengan kebenaran, apakah seseorang wanita wajib mandi bila ia bermimpi?” Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda, “Ya, bila ia melihat air mani”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Di hadits yang lain dari ‘Aisyah Rodhiyallohu ‘anha berkata, “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anhsar, dia tidak dihalangi rasa malu untuk belajar agama”. (HR. Bukhori)

Kemudian adab muslimah yang selanjutnya yaitu menjauhi perkataan keji dan kasar.

Perkataan keji merupakan perkataan yang merusak perasaan dan menghinakan orang lain, mengenai hal ini Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِيءِ

Artinya, “Seorang mukmin bukan orang yang banyak mencaci maki, bukan yang banyak melaknat, bukan berkata keji dan kasar”. (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan At-Tirmidzi)

Di hadits yang lain Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْفُحْشَ أَوْ يُبْغِضُ الْفَاحِشَ وَالْمُتَفَحِّشَ

Artinya, “Sesungguhnya Alloh tidak menyukai perbuatan keji, serta orang yang berbuat dan berkata keji”. (HR. Ahmad)

Adab bagi seorang muslimah selanjut yaitu memilih perkataan baik.

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya, “Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir maka ucapkanlah perkataan baik atau diam”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Ibnul Qoyyim Rohimahulloh mengatakan, “Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam dalam khutbahnya memilihkan untuk umatnya kalimat yang paling baik, paling indah dan paling lembut, serta paling jauh dari perkataan orang-orang yang kasar, keras dan keji. Beliau bukanlah orang yang berkata dan berbuat keji, bukan berteriak dan kasar, beliau tidak suka menggunakan kalimat mulia dan terjaga untuk orang yang bukan ahlinya atau menggunakan kalimat-kalimat hina dan dibenci untuk orang yang bukan miliknya”.

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah pembahasan pada kesempatan kali ini semoga Alloh Ta’alaa memberikan taufiq-Nya kepada kita untuk senantiasa mengamalkan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Wallohu a’lam… (red/admin)