Tarbiyatul Aulad – Pembaca yang semoga dirahmati Allah, seperti perumpamaan yang sudah terdengar tidak asing lagi oleh telinga kita bahwa “perumpamaan orang yang mempelajari ilmu pada waktu kecil adalah seperti menulis di atas batu, sedangkan perumpamaan mempelajari ilmu ketika dewasa adalah seperti menulis di atas air”.

Dalam sejarah, tidak ditemukan suatu agama yang mendorong pemeluk-nya untuk memberikan pengajaran kepada anak-anak seperti Islam. Islam menjadikan seorang Muslim memiliki antusiasme yang sangat tinggi untuk belajar dan mengajar. Antusiasme inilah yang menjadikan mereka sangat isimewa sepanjang sejarahnya yang panjang. Apalagi bagi mereka, menuntut ilmu adalah Ibadah yang paling utama, yang bisa dijadikan media untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Masa kanak-kanak merupakan fase yang paling subur untuk melakukan pembinaan keilmuan dan pemikiran. Pada masa ini daya tangkap dan daya serap otak mereka berada pada kemampuan maksimal, dada mereka lebih longgar dan lebih hapal terhadap apa yang mereka dengar.

Abu Hurairoh radhiyallohu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda, artinya, “Siapa yang mempelajari Al-Qur’an ketika masih muda, maka Al-Qur’an itu akan menyatu dengan daging dan darahnya. Siapa yang mempelajarinya ketika dewasa, sedangkan ilmu itu akan lepas darinya dan tidak melekat pada dirinya, maka ia akan mendapatkan pahala dua kali”. (HR. Al-Baihaqi, Ad-Dailami, dan Al-Hakim)

Agar para orangtua dapat mengarahkan anak melangkah menuju ilmu, belajar, serta mencintai ilmu dan Ulama, ada beberapa hal penting yang harus ditempuh, diantaranya,

Yang pertama. Tanamkan bahwa menuntut ilmu adalah perintah Allah ‘Azza wa Jalla.

Kecintaan anak kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang seyogyanya sudah terlebih dulu ditanamkan, akan memunculkan ketaatan pada perintah-Nya dan takut akan azab-Nya, termasuk dalam menuntut ilmu. Cinta dan takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla akan memunculkan sikap konsisten dalam mencari ilmu tanpa bosan dan dihinggapi rasa putus asa.

Yang kedua. Tanamkan bahwa Al-Qur’an adalah sumber kebenaran.

Al-Qur’an sebagai sumber kebenaran, sejak awal harus disampaikan oleh orangtua kepada anak-anaknya. Semua yang benar menurut Al-Qur’an itulah yang harus dan boleh dilakukan. Ini memerlukan keteladanan orangtua. Dengan begitu, anak akan melihat realisasi Al-Qur’an sebagai sumber kebenaran dalam setiap perilaku orangtuanya. Begitu pula ketika menilai suatu keburukan, semuanya dinilai dengan standar Al-Qur’an.

Yang ketiga. Ajarkan metode belajar yang benar menurut Islam.

Salah seorang Ulama menjelaskan bahwa Islam telah mengajarkan metode belajar yang benar, yaitu,

Pertama. Mempelajari sesuatu dengan mendalam hingga dipahami apa yang dipelajari dengan benar.

Kedua, meyakini ilmu yang sedang dipelajari hingga bisa dijadikan dasar untuk berbuat.

Ketiga, sesuatu yang dipelajari bersifat praktis, bukan sekadar teoretis, hingga dapat menyelesaikan suatu masalah.

Dalam mempelajari alam semesta, misalnya, dikatakan secara teoretis bahwa bulan mengelilingi bumi. Untuk menjadikannya sebagai pemahaman yang mendalam haruslah anak diajak melihat fakta bulan, yang dari hari ke hari berubah bentuk dan besarnya.

Dengan demikian, anak pun menjadi yakin bahwa perubahan tanggal setiap harinya adalah karena peredaran bulan. Dengan begitu, ia dapat mengetahui bahwa menentukan tanggal satu Ramadhan, misalnya adalah dengan melihat bulan.

Yang keempat. Memilihkan guru dan sekolah yang baik bagi anak.

Guru adalah cermin yang dilihat oleh anak sehingga akan membekas di dalam jiwa dan pikiran mereka. Guru adalah sumber pengambilan ilmu. Para Shahabat dan Salafus Shalih sangat serius di dalam memilih guru yang baik bagi anak-anak mereka.

Sehingga seyogyanya seorang anak itu dididik oleh seorang guru yang mempunyai kecerdasan dan agama, piawai dalam membina akhlak, cakap dalam mengatur anak, jauh dari sifat ringan tangan dan dengki, dan tidak kasar di hadapan muridnya.

Imam Mawardi rahimahullah menegaskan urgensi memilih guru yang baik dengan mengatakan, “Wajib bersungguh-sungguh di dalam memilihkan guru dan pendidik bagi anak, seperti kesungguhan di dalam memilihkan ibu dan ibu susuan baginya, bahkan lebih dari itu. Seorang anak akan mengambil akhlak, gerak-gerik, adab dan kebiasaan dari gurunya melebihi yang diambil dari orangtuanya sendiri”.

Begitupun memilihkan sekolah yang baik yang di dalamnya diajarkan hal-hal yang tidak bertentangan dengan agama, apalagi yang merusak akidah anak-anak Muslim. Banyak orangtua memilih sekolah untuk anaknya sekadar agar anak dapat memperoleh ilmu dan prestasi yang bagus, tetapi lupa akan perkembangan kekokohan akidah dan akhlaknya.

Namun demikian, tentulah guru yang paling pertama dan utama adalah orangtuanya, dan sekolah yang paling pertama dan utama adalah rumah tempat tinggalnya bersama orangtua.

Pembaca yang semoga dirahmati Allah, demikianlah pembahasankita kali ini, mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dan hikmahnya. Wallahu a’lam… (red/admin)