Muslimah – Pembaca yang semoga dirahmati Allah, terikatnya jalinan cinta dua orang insane dalam sebuah wadah pernikahan, ini merupakan perkara yang sangat diperhatikan dalam syariat Islam. Bahkan kita dianjurkan untuk serius dalam permasalahan ini dan dilarang menjadikan hal ini sebagai bahan candaan atau main-main. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam,

ثَلاَثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهِزْلُهُنُّ جِدٌّ: النِّكَاحُ وَالطَّلاَقُ وَالرَجْعَةُ

Artinya, “Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius dan bercandanya dianggap serius, nikah, cerai dan ruju”. (HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Siapa saja yang menaiki tangga pernikahan berarti ia telah mengikat seseorang untuk menjadi teman hidup, tidak hanya untuk satu-dua hari saja atau satu atau dua bulan saja bahkan seumur hidup, insyaaAlloh, jika memang tidak terdapat aral melintang yang menghempas bahtera rumah tangga. Jika demikian, merupakan salah satu kemuliaan syariat Islam bahwa orang yang hendak menikah diperintahkan untuk berhati-hati, teliti, tidak terburu-buru dan penuh pertimbangan dalam memilih pasangan hidup.

Sungguh sayang, anjuran ini sudah semakin diabaikan oleh kebanyakan kaum Muslimin, baik lelaki maupun wanita yang hendak melangsungkan pernikahan. Sebagian mereka terjerumus dalam perbuatan maksiat seperti pacaran dan semacamnya, sehingga mereka pun akhirnya menikah dengan kekasih mereka tanpa memperhatikan bagaimana keadaan agamanya. Sebagian lagi memilih pasangannya hanya dengan pertimbangan fisik. Mereka berlomba mencari wanita cantik atau lelaki tampan untuk dijadikan pendamping hidupnya tanpa peduli bagaimana kondisi akidah dan keimanannya.

Sebagian lagi menikah untuk menumpuk harta kekayaan. Mereka pun meminang lelaki atau wanita yang kaya raya untuk sekedar menikmati kekayaan pada pasangannya, bahkan ia pun rela menukar akidahnya. Sebagian lagi memilih pasangan hidupnya dengan mempertimbangkan garis keturunan tanpa memperdulikan akhlak dan perilaku kesehariaan calon pasangannya. Sebagian lagi lebih mempertimbangkan kepada jabatan atau kedudukan untuk meraih prestise di masyarakat.

Fenomena ini, merupakan perkara yang menjamur dan menyebar di masyarakat. Yang terbaik tentunya adalah apa yang dianjurkan oleh syariat, yaitu berhati-hati, teliti dan penuh pertimbangan dalam memilih pasangan hidup serta menimbang anjuran-anjuran agama dalam memilih pasangan.

Islam sebagai agama yang mulia, telah mengatur bagaimana kita memilih pasangan yang akan mendampingi kita di dunia ini, di antara criteria calon suami yang baik yaitu;

Yang Pertama, ia seorang mukmin dengan akidah yang lurus dan taat.

Ikatan tali pernikahan merupakan sarana memanen pahala. Kedua pasangan suami isteri berkewajiban saling mengingatkan agar tercipta keluarga yang islami, yang pada akhirnya mengantarkan mereka berdua kepada kebahagiaan dunia dan akhirat kelak, yaitu memasuki surga Alloh Ta’alaa. Dan Islam melarang seorang wanita muslimah menikah dengan laki-laki non-muslim atau musyrik. Sebab laki-laki demikian akan menghantarkannya kepada api neraka jahannam. Mengenai hal ini Alloh Ta’alaa berfirman,

Artinya, “Dan janganlah kalian menikahkan orang-orang musyrik dengan wanita-wanita mukminah sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hati kalian”. (QS. Al-Baqarah : 221)

Mengenai ayat yang mulia ini, Ibnu Jarir ath-Thobari rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Alloh telah mengharamkan wanita-wanita mukmin untuk dinikahkan dengan lelaki musyrik mana saja. Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian menikahkan wanita-wanita mukmin dengan mereka. Sesungguhnya perbuatan itu haram bagi kalian sebab jika kalian menikahkan mereka dengan lelaki hamba sahaya mukmin yang beriman kepada Alloh, Rosul-Nya, dan yang dibawa beliau dari sisi-Nya lebih baik daripada kalian menikahkan mereka dengan lelaki musyrik meskipun memiliki nasab dan keturunan mulia yang mengagumkan kalian”.

Allah Ta’alaa juga berfirman,

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepada kalian perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kalian uji keimanan mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka, maka jika kalian telah mengetahui bahwa mereka benar-benar beriman, maka janganlah kalian kembalikan mereka kepada suami-suami mereka orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka”. (QS. Al-Mumtahanah : 10)

Dalam ayat yang mulia ini, Alloh Ta’alaa telah melarang untuk mempertahankan status pernikahan wanita-wanita mukminah dengan orang kafir. Tentunya, lebih tidak boleh lagi bila memulainya dengan pernikahan baru.

Dari kedua dalil tadi maka tidak diperbolehkan bagi muslimah menikah dengan orang kafir dalam semua bentuk kekufurannya, baik orang Yahudi, Nasrani, penyembah berhala atau orang komunis dan lain-lain.

Diantara tanda keimanan seorang lelaki yang dapat dilihat ialah senantiasa menunaikan shalat berjama’ah di masjid, hal ini sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam,

Artinya, “Jika kalian melihat seorang laki-laki yang bolak-balik ke masjid, maka saksikanlah bahwa dia beriman. Sesungguhnya Alloh berfirman, “sesungguhnya yang memakmurkan masjid Alloh adalah orang-orang yang beriman kepada Alloh, hari akhir, mendirikan shalat dan menunaikan zakat”. (HR. At-Tirmidzi)

Dan aqidah yang dianutnya adalah aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Ia tidak memiliki pemahaman akidah yang menyimpang seperti Syi’ah, Sufi, liberal, Ahmadiyah, NII, dan lain-lainnya. Ia pun tidak melakukan atau terlibat dalam praktek kemusyrikan seperti mendatangi dukun, paranormal, praktek sihir, percaya kepada bebatuan, melakukan ritual sedekah laut, mempercayai ramalan bintang, dan lain-lain. Loyalitas kepada agama pun tinggi, ia tidak mencintai orang-orang kafir atau menyerahkan urusannya kepada mereka, ia pun tidak melakukan amal-amal kekafiran, seperti menghina ajaran agama Islam, menganggap selain hukum Alloh Ta’alaa lebih baik, menuduh syari’at Islam tidak sesuai dengan perkembangan zaman dan lain-lain. Ia tidak meniru adat-adat jahiliyyah seperti merayakan valentine, tahun baru, ulang tahun, dan lain-lain.

Pembaca yang semoga dirahmati Allah, demikianlah pembahasan pada kesempatan kali ini, semoga bermanfaat. Wallohu a’lam… (red/admin)