Manhaj – Pembaca yang semoga dirahmati Allah, memahami nama-nama Allah Ta’alaa yang Maha indah, dan sifat-sifat-Nya yang Maha sempurna, merupakan pembahasan yang sangat penting dalam agama Islam, bahkan termasuk bagian paling penting dan utama dalam mewujudkan keimanan yang sempurna kepada Allah Ta’alaa. Dikarenakan memahami nama dan sifat Allah adalah salah satu dari dua jenis tauhid yang menjadi landasan utama iman kepada Allah Ta’alaa.

Oleh karena itu, setidaknya ada empat faidah yang bisa kita ambil ketika mempelajari Tauhid Asma wa sifat di antaranya,

Yang pertama, bahwa dengan memahami tauhid asma` wa sifat berarti kita telah mempelajari ilmu yang paling agung dan paling utama secara mutlak, karena berhubungan langsung dengan Allah Ta’alaa, Dzat yang Maha sempurna.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “bahwa sesungguhnya keutamaan suatu ilmu mengikuti keutamaan objek yang dipelajarinya. Karena keyakinan akan dalil-dalil dan bukti-bukti keberadaannya, juga karena besarnya kebutuhan dan manfaat untuk memahaminya. Karena itu, tidak diragukan lagi, bahwa ilmu tentang Allah Ta’alaa, nama, sifat dan perbuatan-Nya adalah ilmu yang paling agung dan paling utama. Perbandingan ilmu ini dengan ilmu-ilmu yang lain adalah seperti perbandingan Kemaha sempurnaan Allah Ta’alaa dengan semua objek yang dipelajari dalam ilmu-ilmu lainnya”.

Memahami tauhid asma` wa sifat Allah Ta’alaa adalah landasan utama semua ilmu yang lain. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan, “Ilmu tentang nama, sifat, dan perbuatan Allah Ta’alaa adalah landasan semua ilmu. Semua ilmu lainnya mengikuti ilmu ini, yang juga dibutuhkan untuk mewujudkan keberadaan ilmu-ilmu lainnya. Dengan demikian, ilmu ini merupakan asal dan landasan bagi setiap ilmu lainnya. Barang siapa yang mengenal Allah Ta’alaa maka dia akan mengenal selain Allah, dan barang siapa yang tidak mengenal Allah, maka lebih lagi dia tidak akan mengenal selain Allah Ta’alaa”.

Allah Ta’alaa berfirman,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ أُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Artinya,“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lalai kepada Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”. (QS. Al-Hasyr : 19)

Dari ayat ini kita ketahui, bahwa barang siapa yang lupa kepada Allah Ta’alaa, maka Allah Ta’alaa akan menjadikannya lupa kepada dirinya sendiri, sehingga dia tidak mengetahui hakikat dan kebaikan-kebaikan untuk dirinya sendiri. Bahkan dia melupakan jalan untuk kebaikan dan keberuntungan bagi dirinya di dunia dan akhirat, karena dia telah berpaling dari fitrah yang Allah jadikan bagi dirinya, lalu dia lupa kepada Allah Ta’alaa. Akhirnya Allah menjadikannya lupa kepada diri dan perilakunya sendiri, juga kepada kesempurnaan, kesucian, dan kebahagiaan dirinya di dunia dan akhirat.

Dengan demikian, ilmu tentang Allah Ta’alaa adalah landasan semua ilmu, sekaligus landasan pemahaman seorang hamba terhadap kebahagiaan, kesempurnaan, dan kebaikan dirinya di dunia dan di akhirat. Ketidak-pahaman terhadap ilmu ini, akan mengakibatkan ketidak-pahaman terhadap kebaikan, kesempurnaan, kesucian, dan kebahagiaan diri sendiri. Karena itu, memahami ilmu ini adalah kunci utama kebahagiaan seorang hamba, dan ketidak-pahaman tentangnya merupakan sumber utama kebinasaannya.

Yang kedua, bahwa dengan memahami tauhid asma` wa sifat Allah dengan benar, adalah satu-satunya pintu untuk bisa ma’rifatullah atau mengenal Allah Ta’alaa, dengan pengenalan yang benar, yang merupakan landasan ibadah kepada Allah Ta’alaa.

Salah satu landasan utama ibadah adalah al-mahabbah atau kecintaan kepada Allah Ta’alaa, dan hal ini tidak mungkin dicapai kecuali dengan mengenal Allah Ta’alaa, dengan pengenalan yang benar, melalui pemahaman terhadap tauhid nama-nama dan sifat-sifat Allah. Orang yang tidak memiliki ma’rifatullah dengan benar, tidak mungkin bisa beribadah dengan benar kepada Allah.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “bahwa barang siapa yang mengenal Alloh Ta’alaa dengan nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya, pasti dia akan mencintai Alloh”.

Jadi, ibadah kepada Allah Ta’alaa tidak akan mungkin dapat diwujudkan oleh seorang hamba dengan benar, kecuali setelah dia mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’alaa dengan pemahaman yang benar.

Yang ketiga, bahwa ketakutan dan ketakwaan yang sebenarnya kepada Allah Ta’alaa hanya bisa dicapai dengan ma’rifatullah atau mengenal Allah Ta’alaa dengan cara yang benar, melalui pemahaman terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء

Artinya,“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu atau mengenal Alloh”. (QS. Fathir : 28)

Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Sesungguhnya aku adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah dan paling mengenal-Nya di antara kamu sekalian”.

Dari dalil-dalil ini kita ketahui, bahwa hanya orang-orang yang berilmu dan mengenal Allah Ta’alaa sajalah yang memiliki rasa takut yang sebenarnya kepada Allah Ta’alaa, karena semakin sempurna pemahaman dan pengetahuan seorang hamba terhadap Allah Ta’alaa, maka ketakutan hamba tersebut kepada-Nya semakin besar pula.

Dan hendaknya semakin bertambah pengetahuan kita terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’alaa, maka harus semakin bertambah pula rasa takut dan pengagungan kita kepada Allah.

Serta semakin banyak pengetahuan kita terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’alaa, rasa takut kepada-Nya pun akan semakin besar. Rasa takut ini hendaknya menjadikan diri kita selalu menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan maksiat, dan senantiasa mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Dzat yang Maha sempurna,

Yang keempat, bahwa memahami tauhid asma` wa sifat Allah Ta’alaa dengan benar adalah satu-satunya cara untuk bisa meraih kenikmatan dan kemuliaan tertinggi di dunia dan akhirat.

Dalam hadits yang shahih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam  bersabda,

Artinya, “Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Ta’alaa berfirman, ‘Apakah kalian wahai penghuni surga menginginkan sesuatu sebagai tambahan dari kenikmatan surga?’, Maka mereka menjawab, ‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami?, Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga, dan menyelamatkan kami dari azab neraka?, Maka pada waktu itu, Allah Ta’alaa membuka hijab yang menutupi wajah-Nya yang Maha mulia, dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu kenikmatan yang lebih mereka sukai, dari pada melihat wajah Allah Ta’alaa”.

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam membaca firman Allah Ta’alaa,

لِّلَّذِينَ أَحْسَنُواْ الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

Artinya, “Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, ada pahala yang terbaik yaitu surga dan tambahannya (yaitu melihat wajah Allah)”. (QS. Yunus : 26)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “bahwa kenikmatan tertinggi di akhirat kelak adalah melihat wajah Allah Ta’alaa yaitu balasan yang Allah berikan kepada orang yang merasakan kenikmatan tertinggi di dunia, yaitu kesempurnaan dan kemanisan iman, kecintaan yang sempurna, dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, serta perasaan tenang dan bahagia ketika mendekatkan diri dan berzikir kepada Allah. Semua ini merupakan buah dari pemahaman yang benar terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah”.

Pembaca yang semoga dirahmati Allah, demikianlah faidah-faidah yang bisa kita ambil ketika mempelajari Tauhid Asma wa sifat, semoga bermanfaat. Wallohu a’lam… (red/admin)