Tarbiyatul Aulad – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, pada kesempatan kali ini, kita akan membahas mengenai “Ajari anak sholat sejak dini”.

Anak merupakan titipan Alloh ‘Azza wa Jalla, sebagai orang tua haruslah menjaga anak-anak kita dengan baik. Kita juga harus mengajarkan anak-anak kita seperti apa yang diperintahkan Alloh ‘Azza wa Jalla dan Rosul-Nya. Seperti dalam mengajarkan kewajiban menjalankan sholat. Lalu bagaimana caranya  agar anak kita mau melaksanakan sholat?.

Perintahkan anak-anak untuk menegakkan sholat ketika umur mereka tujuh tahun. Memerintahkan mereka tidak berarti kita harus berkata, “sholat!” kepada mereka. Akan tetapi, ketika Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam memerintahkan kita untuk menyuruh anak-anak kita sholat adalah dengan mengajarkan bagaimana caranya sholat. Sedangkan dengan menyuruh anak-anak kita untuk pergi ke masjid, padahal kita belum mengajarinya bagaimana cara berwudhu yang benar dan bagaimana tata cara sholat, maka belumlah dikatakan tunai kewajiban kita. Kita dikatakan telah menunaikan kewajiban kita, ketika kita sudah mengajari mereka berwudhu dan bagaimana tata cara sholat, lalu menyuruhnya untuk sholat, inilah yang dikatakan kita telah mengamalkan sunah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam.

Sebagaimana kebanyakan kesalahan atau kecerobohan orang yang membawa anak mereka ke masjid pada usia tujuh tahun atau kurang, tidak dalam keadaan yang suci berwudhu, tanpa mengetahui bagaimana caranya sholat, lalu meletakkan mereka di shaf, yang mana shaf ini akan terputus sebagaimana anak itu berdiri di antara shaf. Hal ini dikarenakan anak tersebut tidak sholat. Sebagaimana Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Barangsiapa yang menyambung shaf, maka akan disambungkan oleh Alloh, dan barangsiapa memutuskan shaf maka akan diputuskan oleh Alloh”. (HR Abu Dawud)

Sebenarnya mengajarkan anak sholat serta akan pentingnya sholat memang seharusnya sudah dimulai sejak dari janin. Ibu yang senantiasa menjaga wudhu serta sholatnya pada saat hamil, berarti telah mengenalkan sholat kepada janin yang dikandungnya. Makna bacaan sholat akan terekam dan akan memberikan pengaruh positif bagi sang janin. Mau seperti apa anak kita, maka penanaman hal-hal yang kita inginkan dimulai dari dalam kandungan. Dan mengajarkan anak sholat adalah sangat penting dimulai sejak sedini mungkin.

Semua bermula dari keteladanan orang tua. Menyaksikan kedua orang tuanya melakukan sholat lima waktu setiap hari sejak dini, membuat anak terpicu untuk meniru. Ketika anak memasuki usia sekolah, yaitu sekitar usia 7 tahun, maka mulailah anak untuk siap memasuki masa untuk mempelajari tata sholat yang benar.

Beberapa cara yang dapat dilakukan pada fase ini, yaitu mengajarkan rukun-rukun sholat melalui pendekatan praktek langsung. Misalnya pada waktu-waktu sholat, orang tua mengajak anak untuk langsung melakukan sholat dengan bimbingan. Mulai dari tata cara thoharoh serta berwudhu pada anak, bagaimana membentuk barisan shaf-shaf pada sholat diikuti dengan praktek sholat yang benar serta menghapalkan do’a-do’a secara bertahap. Dan ketika anak berusia sepuluh tahun anak belum juga mau mengikuti perintah sholat, maka kita beri sedikit pelajaran bagi anak, yaitu dengan cara memperingatkannya dengan tegas. Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Suruhlah anak-anak kalian untuk shalat ketika berumur tujuh tahun, dan jika telah berumur sepuluh tahun, namun tidak mau mengerjakan sholat maka pukullah”. (HR. Abu Dawud)

Ungkapan ini perlu pula dimaknai dengan hati-hati dan juga secara arif. Karena makna “pukullah” di sini tentu bukan melakukan hukuman dengan kekerasan secara fisik yang menyakitkan dan melukai anak, akan tetapi bahwa orang tua harus menunjukkan ketidak senangan dan konsekuensi yang sangat tegas saat anak menolak sholat.

Perlu kita ingat kembali bersama, bahwa setiap pencapaian anak dalam belajar sholat merupakan sebuah prestasi baginya. Sudah selayaknyalah kita sebagai orang tuanya memberikan penghargaan. Penghargaan tidak hanya diberikan atas prestasi akademik formal, tetapi hendaknya penghargaan diberikan ketika anak mengerjakan sholat lima waktu, atau mampu membaca ayat-ayat Al-Qur’an.

Penghargaan sebagai bentuk ekspresi agar anak mengetahui bahwa hal tersebut memang benar-benar sebuah prestasi yang membanggakan sekaligus membahagiakan orang tuanya. Dengan adanya penghargaan inipun, akan menumbuhkan sikap menghargai di dalam jiwa anak. Jika orang tua mampu menghargai prestasi anak dalam hal ibadah, maka sang anak pun akan menghargai Ibadah itu.

Penghargaan ini pun tidak selalu diberikan atau pun diekspresikan dalam bentuk barang, apalagi barang-barang yang mewah dan berlebihan. Tetapi bisa disampaikan dengan ucapan terima kasih, pelukan dan ciuman penuh kasih sayang, serta belaian yang diberikan sesudah anak mengerjakan sholat juga merupakan penghargaan yang tidak dapat diukur dengan materi.

Dan bagi anak-anak, guru yang paling baik itu adalah contoh yang benar dari kita sebagai orang tuanya. Semua orang sepakat bahwa mengajar dengan praktik dan memberi contoh secara langsung jauh lebih berpengaruh positif pada pemahaman anak, dari pada hanya teori semata.

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah pembahasan pada kesempatan kali ini semoga menjadi motivasi bagi kita untuk lebih memperhatikan dalam pendidikan anak-anak kita, khususnya mendidik anak untuk bersemangat melaksanakan kewajiban sholat yang lima waktu, karena pada gilirannya semua itu manfaatnya untuk kebaikan diri kita sendiri di dunia dan akhirat nanti. Semoga Alloh ‘Azza wa Jalla menganugerahkan kepada kita isteri-isteri dan keturunan kita sebagai aset kebahagiaan kita di dunia maupun di akhirat kelak. Wallohu a’lam… (red/admin)