Oleh: Ust. Hawari, Lc., M.E.I.

Kehidupan manusia penuh dengan lika-liku. Senang dan sedih menyapa pada setiap individu manusia. Kaya dan miskin dipergulirkan di antara manusia. Sehat dan sakit silih berganti menimpa siapa saja. Itulah dua perkara berlawanan yang senantiasa menyertai roda kehidupan kita.

Kehidupan yang dipenuhi dengan problematika tersebut membutuhkan solusi agar manusia tegar dan kokoh di dunia ini. Setiap orang tentu memiliki cara yang berbeda-beda dalam menyelesaikan masalah. Ada yang pandai dan cerdik sehingga setiap masalah diselesaikan dengan mudah. Ada pula yang merasa kesulitan menghadapi masalah sehingga dia tidak mengetahui langkah apa yang harus ditempuh.

Musyawarah adalah sarana terbaik dan paling efektif untuk mencari titik temu pernak-pernik kehidupan manusia.  Orang yang bermusyawarah dapat bertukar pikiran dan pendapat untuk mengambil jalan keluar terbaik. Mereka akan lebih mudah menguraikan permasalahan, mencari akar permasalahan serta jalan keluar dari masalah yang mereka hadapi.

Ranah musyawarah sangat banyak dan tak terbatas. Di antara ranah terpenting dalam musyawarah adalah musyawarah keluarga.

Pertikaian antara suami istri dapat ditempuh dengan jalan bermusyawarah. Permasalahan karyawan dan atasan terkait kepegawaian dapat diselesaikan dengan jalur komunikasi dua arah. Problematika tawuran antar pelajar dapat juga diatasi dengan upaya dialog hangat antar orang tua murid dan pihak sekolah. Perjudian yang merebak di perkotaan dan perkampungan yang meresahkan masyarakat dapat diselesaikan dengan komunikasi antara warga dan pemerintah setempat untuk beramar ma’ruf dan nahi munkar. Jadi, melalui musyawarah segala sesuatu lebih indah, berkah, dan mudah. Inilah keberkahan musyawarah di dalam islam.

Segala sesuatu yang diperintahkan dalam ajaran Islam pasti mengandung kebaikan dan kemaslahatan besar. Oleh karena itu, Islam memerintahkan kepada umatnya untuk bermusyawarah dalam urusan yang membutuhkan musyawarah. Baik urusan dunia atau akhirat. Sebab,musyawarah akan memberikan manfaat besar bagi individu atau masyarakat secara umum.

Allah subhanahu wata’ala berfirman.

“Bagi orang-orang yang mematuhi seruan Robbnya dan mendirikan sholat, sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. asy Syuro: 38)

Di dalam ayat yang lain Allah subhanahu wata’ala juga berfirman:

Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. (QS. Ali Imran: 159)

Berkaitan dengan musyawarah Syekh Abu Bakar al-Jazairi Rahimahulloh berkata di dalam kitab beliau Aisarut Tafasir, “…Bermusyawarahlah dengan orang cendekia. Jika nampak bagimu pendapat lebih unggul kemaslahatannya, bulatkan tekad untuk melaksanakan sambil bertawakal kepada Rabbmu, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal. Tawakal adalah melangkah untuk melaksanakan apa saja yang diperintahkan dan diperkenankan oleh Allah setelah menempuh sebab penting, tidak memikirkan apa yang akan terjadi, dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah  Subhanahu wata’ala akan hasilnya.”

Syekh As-Sa’di Rahimahullah juga berkata,

’Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu’ yaitu perkara-perkara yang membutuhkan musyawarah, pertimbangan, dan pendapat. Karena bermusyawarah memiliki banyak faidah dan kemaslahatan, baik agama maupun dunia yang tidak mungkin dibatasi.

Dari penjelasan para ulama tersebut jelas sekali bahwa musyawarah merupakan syariat yang penuh berkah. Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi keluarga muslim membiasakan diri bermusyawarah dalam segala hal. Meskipun permasalahan keluarga kecil dan sepele, namun ketika hal tersebut dimusyawarahkan maka akan lebih memberikan kemudahan bagi keluarga tersebut.

Di antara manfaat musyawarah yang disebutkan oleh syekh As Sa’di Rahimahullah adalah sebagai berikut:

Pertama, Sesungguhnya musyawarah itu termasuk kategori ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.

Kedua, Dalam bermusyawarah diperkenankan mengungkapkan perasaan-perasaan mereka dan menghilangkan ketidakenakan yang ada dalam hati ketika terjadi berbagai peristiwa. Orang yang memiliki kekuasaan apabila mengumpulkan para cendekiawan dan tokoh masyarakat, lalu mengajak rakyat bermusyawarah tentang suatu peristiwa , niscaya hati mereka menjadi tenang dan mereka akan mencintainya. Selain itu, mereka akan mengetahui bahwa ia tidaklah diktaktor dalam memimpin mereka, sebaliknya akan memandang pada kemaslahatan umum bagi seluruh masyarakat.

Ketiga, Di dalam bermusyawarah semua mengarahkan segala usaha dan kemampuan mereka dalam ketaatan kepadanya, karena mereka mengetahui bahwa usahanya itu demi kemaslahatan umum. Berbeda dengan orang yang memiliki kekuasaan, namun tidak mengadakan musyawarah, mereka hampir tidak menyukainya dengan kecintaan yang jujur dan tidak pula mentaatinya.

Keempat, Apa yang dihasilkan dari musyawarah adalah dari pikiran yang matang.

Jadi jelas sekali bahwa musyawarah merupakan sarana terbaik memecahkan masalah setelah seseorang beristikhoroh. Jika di dalam keluarga senantiasa membudayakan musyawarah, maka akan menjadi keluarga yang senantiasa dalam kebaikan dan jauh dari perpecahan.

Semoga keluarga kita termasuk keluarga yang senantiasa membudayakan musyawarah dalam segala urusan. Sehingga, segala problematika yang menimpa keluarga kita bisa diselesaikan dengan bijaksana.

Demikianlah uraian singkat tentang pentingya musyawarah dalam keluarga. Mudah-mudahan bermanfaat. Wallahu a’lam.