Oleh: Umar Muhsin, Lc., M.Pd.I.

Di antara ibadah yang Allah shalallahu alaihi wasallam dan Rasul-Nya syariatkan kepada kita semua adalah berdoa dan berdzkir. Banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang menjelaskan tentang disyariatkannya doa dan dzikir. Di antaranya adalah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Tuhan kalian berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dengan tidak beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghofir [40]: 60)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Siapa yang tidak berdoa kepada Allah Yang Maha Suci, maka Dia murka kepadanya.” (HR. Ibnu Majah)

Adapun ayat dan hadits yang berkaitan dengan dzikir juga banyak jumlahnya. Di antaranya adalah sebagai berikut.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah, dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. (QS. al-Ahzab [33]: 41)

Dalam ayat yang lain Allah juga berfirman:

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan dzikir kepada Allah. Ingatlah, hanya dengan dzikir kepada Allah hati menjadi tenteram. (QS. ar-Ra’d [13]: 28)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Hadits Qudsi:

Aku sesuai prasangka seorang hamba kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika dia berdzikir kepada-Ku. Jika dia menyebut-Ku pada dirinya, maka Aku akan menyebutnya pada diri-Ku. Jika dia menyebut-Ku di sebuah perkumpulan manusia maka Aku akan menyebutnya di perkumpulan malaikat yang lebih baik dari mereka. Jika dia mendekat sejengkal kepada-Ku, maka Aku akan mendekat sehasta kepadanya. Jika dia mendekat sehasta kepada-Ku, maka Aku akan mendekat sedepa kepadanya. Jika dia berjalan mendekati-Ku, maka Aku akan berlari mendekatinya. (HR. Bukhari)    

Makna Doa dan Dzikir

Dalam kitab Lisanul ‘Arob, Ibnu Manzur rahimahullah mengatakan doa adalah harapan seorang hamba kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Doa artinya memohon pertolongan dan bantuan dari seorang hamba kepada Allah. Berdoa menunjukkan bahwa manusia sangat membutuhkan pertolongan Allah, dan pengakuan bahwa tidak ada kekuasaan yang hakiki kecuali dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sehingga doa disebut sebagai intisari ibadah.

Dalam kitab ad-Du’a Silahul Mu’min yang disusun oleh Departemen Ilmiah Darul Wathon, dikatakan bahwa doa adalah jalan keselamatan, tangga pengantar, sesuatu yang dituntut oleh orang-orang yang berpengetahuan, kendaraan orang-orang shalih, tempat berlindung bagi kaum yang terzalimi dan tertindas, melalui doa nikmat diturunkan dan melaluinya pula murka dihindarkan. Alangkah besar kebutuhan para hamba Allah akan doa, seorang muslim tidak akan pernah bisa lepas dari kebutuhan akan doa dalam setiap situasi dan kondisinya.

Doa juga merupakan obat yang paling mujarab, ia ibarat musuh bagi penyakit, ia senantiasa melawan, menghilangkan atau meringankanya. Doa juga merupakan hubungan seorang hamba dengan Allah subhanahu wa ta’ala dan jalan untuk memenuhi kebutuhannya di dunia dan akhirat.

Adapun dzikir memiliki makna umum dan khusus. Secara umum makna dzikir men-cakup semua bentuk ibadah. Seperti sholat, puasa, haji, membaca al-Qur’an, memuji Allah, berdoa, bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, dan yang ibadah-ibadah lainnya. Hal ini disebut dzikir karena tujuan pelaksanaannya untuk mengingat Allah, menaati-Nya, dan beribadah kepada-Nya.

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dzikir adalah setiap ucapan lisan dan ucapan hati yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Seperti belajar ilmu agama, mengajarkannya, dan amar ma’ruf nahi munkar.”

Syekh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa lafadz “dzikir” jika dimutlakkan, maka maknanya adalah segala amalan yang dapat mendekatkan diri seorang hamba kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Seperti akidah, pemikiran, amalan hati, amalan anggota badan, memuji Allah, belajar, dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Semua ini disebut sebagai dzikir kepada Allah.

Adapun dzikir yang bermakna khusus adalah dzikir kepada Allah dengan lafadz-lafadz yang diajarkan di dalam al-Qur’an dan Sunah. Seperti membaca al-Qur’an, mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala dengan menyebut nama dan sifat-Nya ketika berdoa. Demikian juga dzikir-dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam seperti bertasbih, bertahmid, bertakbir, dan bertahlil.

Ibnu ‘Allan rahimahullah berkata, “Asal dari kata dzikir adalah kata-kata yang dijadikan ibadah kepada Allah yang menunjukkan pengagungan Allah subhanahu wa ta’ala dan pujian untuk-Nya.” Adapun yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah dzikir dalam arti khusus.

Hal terpenting dalam masalah dzikir adalah dzikir seorang hamba dengan hati dan lisannya. Tidak hanya dengan lisan tanpa hati, sebab hati adalah sumber utama untuk berdzikir. Allah ta’ala berfirman:

“…Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari dzikir kepada Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya itu melewati batas.” (QS. al-Kahfi [18]: 28)

Jadi, makna doa adalah memohon kepada Allah. Sedangkan dzikir bermakna mengingat Allah. Baik doa maupun dzikir keduanya merupakan ibadah yang sangat penting bagi kehidupan kaum muslimin. Bahkan, sebenarnya doa dan dzikir itu adalah aktivitas rutin yang tidak bias dipisahkan dari kehidupan kaum muslimin. Karena hampir setiap aktivitas seorang muslim, baik yang personal maupun yang sosial terdapat doa dan dzikir yang disyariatkan. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membimbing kita untuk senatiasa berdoa dan berdzikir kepada-Nya. Wallahu a’lam.