Oleh : Solahudin, Lc.

Setelah beriman kepada Alloh subhanahu wa ta’ala dan hari akhir, maka seorang Muslim harus mencintai orang-orang yang dicintai oleh Alloh dan Rosul-Nya sholallohu alaihi wasallam, dari membenci orang yang dibenci oleh Alloh ta’ala dan Rosul-Nya sholallohu alaihi wasallam. Ini adalah sebuah konsekuensi dari keimanan yang benar, keimanan yang ada dalam hati yang bersih.

Jika hati ternoda dengan kemunafikan maka loyalitas yang harus diberikan kepada orang Muslim menjadi pudar, bahkan bisa menjadi terbalik, kecintaan dan loyalitas orang tersebut akan diberikan kepada orang-orang kafir, karena pada hakekatnya mereka adalah saudara dalam kekufuran pada Alloh ta’ala. Hanya saja kekufuran nifak lebih khusus pada kekufuran hati lalu menular para kekufuran tingkah laku.

Alloh ta’ala berfirman:

 بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (138) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا (139) 

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman ope menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang Mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Alloh.” (QS. An-Nisa[4]: 138-139)

Pembelaan orang-orang munafik kepada kaum kafir biasanya disebabkan karena mereka hendak mencari perlindungan dan mencari pendukungan dari orang kafir itu. Karena kejahilan mereka meyakini bahwa pendukungan orang kafir atas merekalah yang akan menyebabkan mereka menang dan mulia atas orang-orang Islam. Akan tetapi sungguh jauh panggang dari api, hal itu akan hanya menjadi isapan jempol belaka karena Alloh subhanahu wa ta’ala telah menetapkan kemuliaan dan kemenangan hanya untuk orang-orang yang mengabdi kepada-Nya.

Bagi orang yang berhati suci dari kenafikan maka dia akan mengetahui bahwa kemenangan akan diraih dengan ketundukan pada Alloh sedangkan orang-orang kafir sama sekali tidak akan memberikan kemenangan bahkan sebaliknya mereka hanya akan menjadikan diri pelakunya kalah dan terhina baik di dunia maupun di akhirat.

Alloh berfirman:

 وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ – See more at: http://alim.org/library/quran/ayah/compare/11/113/differences-arose-about-torah-given-to-musa-for-his-followers%27-lack-of-belief#sthash.iAegTbgR.dpuf

“Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang zholim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka, dan sekali-kali kalian tiada mempunyai seorang penolongpun selain Alloh, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS. Hud [11]: 113)

Membantu orang kafir merupakan ciri dari kemunafikan, jika bantuan dan pendukungan seseorang kepada orang kafir karena kecintaannya kepada mereka dan karena membenarkan agama mereka maka ini berkategori nifak I’tiqodi yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam secara total dan dia di akhirat akan menempati neraka yang paling bawah selamanya.

Alloh ta’ala berfirman:

 إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (QS. An-Nisa [4]: 145)

Adapun jika pendukungan dan pembelaan seseorang kepada kaum kafir itu disebabkan karena harapan untuk mendapatkan harta dunia atau jabatan maka nifak semacam ini tergolong ke dalam nifak amali, yang merupakan dosa besar walaupun belum tentu mengeluarkan pelakunya dari Islam secara total.

Nifak amali ini pernah dialami oleh Hatib Ibn Balta’ah rodhiallohu anhu, ketika dia mengirim utusan kepada orang kafir Quroisy untuk menginformasikan kepada mereka bahwa Rosululloh sholallohu alihi wasallam di Madinah telah mempersiapkan sahabatnya untuk menyerang mereka. Ketika Rosululloh sholallohu alihi wasallam dikabarkan oleh Alloh ta’ala tentang perkara ini. Maka Umar Ibn Khothtob berkata kepada beliau: Wahai Rosululloh biarkan aku penggal kepala munafiq ini, karena dia telah mengkhianati Alloh, Rosul-Nya sholallohu alaihi wasallam dan kaum Mukminin.

Kemudian Rosululloh sholallohu alihi wasallam pun bertanya kepada Hatib: Wahai Hatib, apa yang menyebabkan engkau berbuat seperti itu? Hatib menjawab dengan nada terputus-putus: “Wahai Rosululloh, janganlah tergesa-gesa menghukum diriku. Semua itu aku lakukan karena aku bukan dari golongan Quroisy, di Mekah aku masih mempunya sanak saudara. Maka aku ingin kaum Quroisy menjaga keluargaku di Mekah. Dan sungguh, itu aku lakukan bukan karena aku telah murtad dari Islam, dan bukan pula aku rela kepada kekufuran sesudah iman.”

Rosululloh sholallohu alaihi wasallam memandang semua sahabat yang hadir dengan wajah bersinar, dan berkata kepada mereka: “Bagaimana pun juga, ia telah berkata jujur.”

Sementara itu Rosululloh sholallohu alaihi wasallam telah memaafkan Hatib karena ia telah mengakui dosanya. Selain itu beliau mengingat perjuangan Hatib di masa lalu karena ia berjuang di medan perang Badar, sehingga banyak pasukan musyrikin yang mati di bawah tebasan pedangnya. Ia berani menghadapi bahaya dengan menerjang barisan musuh. Rosululloh sholallohu alaihi wasallam juga mengingat posisi Hatib pada hari Bai’atur Ridwan di bawah sebuah pohon yang diberkahi, di mana pada saat itu para Malaikat menyaksikan orang-orang Mukmin yang sedang mengulurkan tangan mereka untuk berbaiat kepada Rosululloh sholallohu alihi wasallam. Kesalahan Hatib pun dimaafkan.

Wallohu a’lam.