Oleh: Ust. Abu Mujahidah, Lc., M.E.I.

Bersuci berarti membersihkan diri dari kotoran. Apakah itu kotoran yang sifatnya indrawi seperti najis, ataupun kotoran yang sifatnya maknawi seperti aib. Adapun bersuci dalam pengertian syariat adalah suatu perbuatan yang menyebabkan bolehnya melaksanakan shalat atau hal lain yang hukumnya sama dengan shalat. Misalnya, berwudhu untuk orang yang belum berwudhu, mandi bagi orang yang wajib mandi, serta membersihkan pakaian, badan, dan tempat.

Islam sangat memerhatikan kesucian dan kebersihan pemeluknya, khususnya tatkala dalam melaksanakan ibadah. Hal ini terlihat dari beberapa perintah dan anjuran berikut ini:

Pertama; Hukum Berthoharoh atau bersuci adalah Wajib.

Thoharoh atau bersuci dari segala bentuk najis adalah wajib jika diketahui dan mampu melaksanakannya. Keharusan suci dari najis ini adalah panduan syariat Islam agar seorang muslim senantiasa dalam keadaan bersih. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Bersihkanlah pakaianmu!” (QS. al-Mudatsir: 4)

Yang kedua; Syariat Berwudhu.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah oleh kalian muka dan tangan kalian sampai dengan siku, dan sapulah kepala kalian dan basuhlah kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. al Maidah: 6)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab Tafsirnya mengatakan bahwa ayat ini merupakan perintah berwudhu tatkala hendak melaksanakan shalat. Namun, perintah wajib itu harus dilakukan bagi orang yang berhadats. Sedangkan bagi yang masih suci, perintah itu sunnah.

Perintah wudhu bagi yang hendak shalat ini menunjukkan bahwa Islam mewajibkan ummatnya dalam keadaan suci tatkala menghadap Robb-nya. Bahkan, pelaksanaan wudhu pun harus sempurna sesuai tuntunan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Hal itu ditegaskan dalam sabdanya:

“Celakalah bagi para pemilik tumit yang tidak terkena basuhan air wudhu dari neraka.” (HR. Bukhari)

Faidah dari hadits ini bahwa wajib memerhatikan anggota-anggota wudhu dan tidak boleh mengabaikan sedikitpun anggota wudhu. Lalu Nash hadits menyebut kedua tumit, dan anggota-anggota lainnya diqiyaskan padanya karena ada nash-nash lain yang menyebut seluruh anggota-anggota wudhu. Dan terdapat ancaman keras bagi orang yang tidak baik dalam berwudhu.

Dengan demikian, syariat wudhu dan wajib menyempurnaan pelaksanaannya adalah bukti konkrit bahwa agama Islam benar-benar memberikan perhatian akan kebersihan dan kesucian. Terutama tatkala hendak melaksanakan ibadah shalat.

Yang ketiga bahwa bukti islam sangat memperhatikan kesucian adalah adanya perintah Syariat Mandi Junub.

Secara umum mandi merupakan kegiatan membersihkan badan. Terutama dari segala bentuk kotoran. Tatkala Islam mewajibkan mandi dari segala bentuk hadats, tentu ini menunjukkan bahwa agama Islam senantiasa mengajarkan ummatnya agar adalam keadaan bersih. Terutama tatkala hendak beribadah.

Adapun mandi yang dimaksudkan dalam syrariat Islam adalah mandi junub. Yaitu membasahi seluruh tubuh dengan air dan diawali dengan niat untuk mandi wajib. Mandi junub bersifat ta`abbudi yaitu bersifat ibadah kepada Allah. Mandi junub bertujuan menghilangkan hadats besar. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Jika kalian dalam keadaan junub maka hendaklah kalian mandi janabah.” (QS. al-Maidah: 6)

Selain itu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda sebagaimana diriwayatkan Imam Al Bukhari;

Abu Hurairah meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Allah tidak menerima shalat seseorang di antara kalian ketika berhadats hingga ia berwudhu.” (HR. Bukhari)

Pendengar. Maksud hadats dalam hadits tersebut adalah sesuatu yang keluar dari dubur atau kemaluan, atau hal-hal lain yang membatalkan wudhu. Jadi hadats adalah deskripsi hukum yang diperkirakan terjadi pada anggota tubuh. Keberaadaannya menghalangi ibadah yang menjadikan Thoharoh sebagai syarat.

Yang keempat; Islam memberikan perhatian kebersihan badan.

Agama Islam menyeru kepada para pemeluknya empat belas abad yang lalu agar memperhatikan kesehatan dan kebersihan kuku, bulu ketiak dan bulu kemaluan. Gerakan kebersihan jasmani ini mengandung dampak positif, bahkan sesuai dengan ilmu kesehatan modern masa kini. Dengan demikian ajaran Islam sesuai dengan perkembangan zaman.

Rasul shalallahu alaihi wasallam bersabda;

“Ada lima hal yang termasuk fitroh atau lima perkara yang termasuk fitroh: khitan, memotong rambut kemaluan, memotong kuku, mencabut rambut ketiak dan memangkas kumis.” (HR. Bukhari)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah menetapkan batas paling lama seseorang dibolehkan membiarkan bulu-bulu tersebut. Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata:

Kami diberi batasan waktu dalam memotong kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan, yaitu agar bulu-bulu tersebut tidak dibiarkan lebih dari empat puluh malam.” (HR. Muslim)

Demikianlah pembahasan kewajiban ber-thoharoh atau bersuci dalam syariat agama Islam. Semoga bermanfaat.

Allahu a’lam.