Oleh: Abu Mujahidah al-Ghifari, Lc, M.E.I

Islam adalah agama yang menjaga kemuliaan Manusia. Seluruh syari’at yang ditetapkan dalam Islam mengandung manfaat dan memuliakan manusia. Dan setiap yang membahayakan manusia diharamkan dalam Islam. Di antara bentuk kemuliaan Islam adalah menganjurkan pernikahan. Nikah disyari’atkan dalam Islam dalam bentuk memuliakan manusia agar merasakan ketentraman, kasih sayang dan menjaga keturunan serta kesucian.

Alloh Ta’ala berfirman:

 وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ 

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian isteri-isteri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum [30]: 21)

Nikah adalah perjanjian yang kuat dan kokoh (miitsaaqon ghaliidha). Nikah itu dibangun di atas niat yang tulus untuk sebuah pergaulan abadi di antara dua insan untuk merealisasikan kehidupan yang penuh kedamaian, ketentraman batin, cinta, dan kasih sayang. Maka, Islam telah menetapkan aturan-aturan nikah dengan sangat jelas untuk memuliakan manusia sesuai dengan kedudukannya dibanding makhluk-makhluk Alloh subhanahu wa ta’ala yang lain.

Di antara bentuk praktek nikah yang tidak sesuai dengan pernikahan dalam Islam adalah nikah mut’ah. Bentuk pernikahan ini dikenal dengan istilah kawin kontrak. Yang dimaksud nikah mut’ah adalah, seseorang menikah dengan seorang wanita dalam batas waktu tertentu, dengan sesuatu pemberian kepadanya, berupa harta, makanan, pakaian atau yang lainnya. Jika masanya telah selesai, maka dengan sendirinya mereka berpisah tanpa kata thalak dan tanpa warisan. (Jami’ Ahkamal-Nisa/169-170)

Pada awal-awal masa Islam, nikah mut’ah pernah dibolehkan dan diharamkan dua kali, yaitu sebelum perang Khaibar lalu diharamkan ketika perang Khaibar dan pada tahun penaklukan yang dikenal dengan nama tahun Authas kemudian diharamkan selama-lamanya. Pembolehan nikah mut’ah karena pada saat itu masih dalam proses transisi dari jahiliyah ke Islam. Sebagaimana pengharaman khomr (minuman keras), al-Qur’an tidak mengharamkan secara secara langsung, akan tetapi berangsur sampai khomr tersebut benar-benar diharamkan secara total.

Pengharaman nikah mut’ah telah ditetapkan berdasarkan hadits-hadits mutawatir sebagaimana dalam  kitab Nihayah al-Mujtahid. Dan pendapat beberapa sahabat yang membolehkan nikah mut’ah telah meralat pendapatnya dan memfatwakan haramnya nikah mut’ah sebagaimana dijelaskan oleh Imam an-Nawawi rohimahulloh.

Pengharaman nikah mut’ah ini sejalan dengan prinsip Islam yang melarang zina dan segala bentuk yang mengarah pada perzinaan. Islam menutup sarana-sarana yang menjurus kepada perbuatan kotor dan menjijikan. Islam mengharamkan perzinaan yang berbalutkan pernikahan, atau pelacuran menggunakan baju kehormatan.

Adapun dalil yang menjelaskan tentang haramnya nikah mut’ah sangat banyak diantaranya adalah:

Dari Rabi` bin Sabrah, dari ayahnya, bahwasanya ia bersama Rasululloh sholallohu alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: “Wahai, sekalian manusia. Sebelumnya aku telah mengizinkan kalian melakukan mut’ah dengan wanita. Sesungguhnya Alloh telah mengharamkannya hingga hari Kiamat. Barangsiapa yang mempunyai sesuatu pada mereka, maka biarkanlah! Jangan ambil sedikitpun dari apa yang telah diberikan.” (HR. Muslim)

Dari Ali rodhiallohu anhu, dia berkata, “Rasululloh melarang nikah mut’ah pada waktu perang khaibar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Iyas bin Salamah dan dari bapaknya, ia berkata: “Rasululloh sholallohu alaihi wasallam telah memberikan keringanan dalam mut’ah selama tiga hari pada masa perang Awthas (juga dikenal dengan perang Hunain), kemudian beliau melarang kami” (HR. Muslim)

Hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa nikah mut’ah telah diharamkan secara total dalam Islam. Dan orang yang masih membolehkan nikah mut’ah tidak lebih dari orang yang melegalkan perzinaan berbalut agama. Dia adalah hamba syahwat yang tidak menghormati makna kemuliaan manusia dan kesucian wanita.

Untuk mempertegas tentang keharaman nikah mut’ah, berikut penjelasan ulama empat madzhab tentang nikah mut’ah:

  1. Dari Madzhab Hanafi, Imam Syamsuddin al-Sarkhasi rohimahulloh dalam kitabnya al-Mabsuth (V/152) mengatakan: “Nikah mut’ah ini bathil menurut madzhab kami.” Demikian pula Imam Al-Kasani rohimahulloh dalam kitabnya Bada’i al-Sana’i (II/272) mengatakan, “Tidak boleh nikah yang bersifat sementara, yaitu nikah mut’ah”.
  2. Dari Madzhab Maliki, Imam Ibnu Rusyd rohimahulloh dalam kitabnya Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid (IV/325 s.d 334) mengatakan, “Hadits-hadits yang mengharamkan nikah mut’ah mencapai peringkat mutawatir”, dan dalam kitab al-Mudawanah al-Kubra (II/130) Imam Malik bin Anas rohimahulloh mengatakan, “Apabila seorang lelaki menikahi wanita dengan dibatasi waktu, maka nikahnya batil.”
  3. Dari Madzhab Syafi’, Imam Syafi’i rohimahulloh dalam kitabnya al-Umm (V/85) mengatakan, “Nikah mut’ah yang dilarang itu adalah semua nikah yang dibatasi dengan waktu, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, seperti ucapan seorang lelaki kepada seorang perempuan, aku nikahi kamu selama satu hari, sepuluh hari atau satu bulan.” Dan Imam al-Nawawi rohimahulloh dalam kitabnya al-Majmu’ (XVII/356) mengatakan, “Nikah mut’ah tidak diperbolehkan, karena pernikahan itu pada dasarnya adalah suatu akad yang bersifat mutlaq, maka tidak sah apabila dibatasi dengan waktu.”
  4. Dari Madzhab Hambali, Imam Ibnu Qudamah rohimahulloh dalam kitabnya al-Mughni (X/46) mengatakan, “Nikah Mut’ah ini adalah nikah yang bathil.” Dan beliau Ibnu Qudamah rohimahulloh juga menukil pendapat Imam Ahmad bin Hambal rohimahulloh yang menegaskan bahwa nikah mut’ah adalah haram.

Dari penjelasan di atas, maka tidak diragukan lagi bahwa nikah mut’ah adalah praktek pernikahan yang haram. Jika dilakukan maka perbuatan tersebut sama dengan perbuatan zina.

Ibnu Majah rohimahulloh meriwayatkan dari Umar rodhiallohu anhu dengan sanad shahih bahwa Umar rodhiallohu anhu berkhutbah, “Sesungguhnya Rasululloh sholallohu alaihi wasallam mengijinkan kami nikah mut’ah kemudian melarangnya. Demi Alloh! Jika ada orang yang telah beristeri kemudian melakukan nikah mut’ah, maka saya akan melakukan hukum rajam kepadanya.”

Ibnu Umar rodhiallohu anhu berkata, “Rasululloh sholallohu alaihi wasallam melarang nikah mut’ah dan kami bukanlah pezina.” (HR. Ibnu Majah).

Dampak dari perbuatan nikah mut’ah sangat banyak, diantaranya: Mengotori kesucian wanita, mengundang berbagai penyakit sex bebas seperti AIDS, menghancurkan tatanan rumah tangga dan masyarakat serta mengaburkan nasab keturunan, dan berbagai kerusakan lainnya. Wallohu Ta’ala a’lam…

Bagikan artikel ini: